A.                   Ilmu Tajwid dengan Kemampuan Membaca al-Qur’an di SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng

Secara etimologis Pembelajaran berasal dari akar bahasa yakni Pengajaran, dalam bahasa Arab dikenal dengan


lafadz Ta’lim. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007 : 17) Menta’rifkan kata pembelajaran berasal dari kata Ajar yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau dituruti, sedangkan Pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Menurut istilah Pembelajaran ialah mengajarkan siswa atau anak didik menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.[1] Sedangkan Pembelajaran al-Qur’an ialah proses pendidik dalam mengajarkan dan membimbing al-Qur’an kepada peserta didik agar mampu memilih jalan yang benar.[2]

Selain itu, Allah akan melimpahkan kebaikan kepada orang yang mempelajari dan mengamalkan al-Qur’an, selagi kita tetap teguh diatas petunjuk al-Qur’an dan mengaplikasikan sunnahnya. Nabi SAW bersabda:

وعلمه القرآن تعلم من خيركم

Diriwayatkan dari Utsman ra, bahwa Nabi SAW bersabda: sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. (H.R. Bukhorri no 5027).

Adapun Tajwid merupakan cabang ilmu yang telah lama hadir dalam dunia keislaman. Sejak al-Qur’an diturunkan sejak itupula tajwid diterapkan. Pembacaan dengan menggunakan hukum tajwid bukanlah suatu ilmu hasil ijtihad (fatwa) para ulama yang diolah berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, tetapi pembacaan al-Qur’an merupakan hasil taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asal yaitu bacaan Rosulullah saw, sehingga dalam perkembangannya. Sedangkan Ilmu Tajwid menurut Abdul Mujib Ismail dan Maria Ulfa Nawawi yaitu, Ilmu Tajwid dikenal sebagai suatu cabang ilmu yang dapat berdiri sendiri karena memiliki syarat ilmiah yaitu adanya tujuan, fungsi dan objek serta sistematiak tersendiri.[3]

Ilmu tajwid adalah ilmu yang berguna untuk mengetahui bagaimana cara menerapkan atau memberikan hak huruf dan mustahaqnya. Baik yang berkaitan dengan, sifat, mad dsb, seperti tarqiq dan tafkhim dan selain keduanya. Cara yang Nabi pergunakan dalam membaca al-Qur’an sebagaimana yang dijelaskan Aisyah ra, bahwa Rosulullah SAW membaca al-Qur’an dengan tartil sehingga membaca panjang setiap lafal yang seharusnya dibaca panjang dan sebaliknya. Dasar hukum wajibnya membaca al-Qur’an dengan Ilmu Tajwid sesuai dengan firman Allah SWT:

تَرْتِيْلًاۗ الْقُرْاٰنَ وَرَتِّلِ . . . .

“… dan bacalah al-Qur’an dengan Tartil.” (QS. Al-Muzammil : 4)

Ayat ini memerintahkan kita agar membaca al-Qur’an dengan perlahan-lahan sehingga membantu pemahaman dan perenungan terhadap al-Qur’an.[4]

Menurut Imam Baidlawi, ~seorang ulama klasik~ Al-Qur`ân adalah Kalam Lafzhi Tuhan yang bersifat hadîts (baru) yang berupa lafal dan makna serta berasal dari Kalam Nafsi Tuhan yang bersifat qadîm (terdahulu dan inheren dari perbuatan Tuhan) yang tidak berupa lafal dan makna atau immateri. Kalam Lafzhi Tuhan merupakan konkretisasi dari Kalam Nafsi Tuhan yang bersifat abstrak, yang tidak bisa disentuh kecuali oleh makhluk yang suci. Juga pendapat Imam Abu Hanifah, bahwa Al-Qur`ân hanya bersifat qadim dari segi makna, tidak pada lafalnya. Atau jika dikaitkan dengan konsep ayat muhkamat menurut hemat peneliti bahwa Al-Qur`an hanya bersifat qadim pada makna-makna yang bersifat doktrin dan makna

universalnya saja, juga tetap bernilai qadîm pada lafalnya.

Dengan demikian, dalam perspektif terakhir ini, dapat dinyatakan bahwa Al-Qur`ân yang bersifat Kalam Nafsi berada di Baitul Izzah (al-sama’ al-duniya ), dan itu semuanya bermuatan makna muhkamât yang menjadi rujukan atau tempat

kembalinya ayat-ayat mutasyâbihât, sedangkan Al-Qur`ân yang turun ke bumi dan diterima oleh Muhammad sebagai nabi terakhir, merupakan kalam lafzhi , yang bermuatan Kalam Nafsi karena mengandung tidak hanya ayat yang mutasyabihat tetapi juga ayat atau makna-makna yang bersifat muhkamat.

Sebagaimana tersebut, terdapat istilah lain yang berkaitan dengan penamaan “Al-Qur`an” sebagai kitab suci umat Islam, yaitu istilah “al-surah” (kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia dengan ungkapan “Surat”, dan bentuk jamak-nya adalah “al-suwar” ) dan istilah “al-ayah” (bentuk jamaknya adalah ayat, dan diserap menjadi bahasa Indonesia dengan kata “ayat”). “Surah” merupakan nama untuk merujuk “bab” Al-Qur`an, yang seluruhnya berjumlah 114 surat. Sementara “ayat” merupakan bahagian dari surat dalam Al-Qur`ân. Menurut para peneliti tafsir Al-Qur`an, bahwa terdapat tingkatan teks dalam Al-Qur`an, yaitu dimulai dari unit terkecil, “zhahir , nash , mufassar , hingga muhkam” . Istilah nash minimal terdapat dalam satu ayat, sedang zhâhir terdapat pada bahagian dari satu ayat atau ia berada dalam satu kalimat, morfemologi, yang merupakan bahagian dari potongan satu ayat.[5]

 

Nabi Muhammad SAW, adalah seorang Nabi yang ummi yakni tidak pandai membaca dan tidak pandai menulis. Hal ini secara jelas dinyatakan oleh Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 157 yang artinya:

“Yaitu orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi tidak bisa baca tulis yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.”

 

Dari ayat diatas bahwa hikmah Allah swt. memilih seorang nabi yang ummi agar manusia tidak ragu-ragu lagi menerima Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi sebab apabila Nabi ketika itu tahu baca tulis, niscaya manusia akan ragu dan mengingkari Al-Qur’an. Kondisi yang demikian (tak pandai membaca dan menulis), maka tak ada jalan lain beliau SAW. selain menerima wahyu secara hafalan. Maka segeralah beliau menghafalnya bila mendapatkan wahyu dari Allah swt. setelah beliau hafal beliau segera mengajarkan kepada para sahabatnya, sehingga benar-benar menguasainya serta menyuruhnya agar mereka menghafalnya. Uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya belajar dan utamanya belajar Al-Qur’an, apalagi jika Al-Qur’an itu dapat dihafal dan dihayati serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari

 

Karna memang, Tujuan Pokok Al-Quran Dari sejarah diturunkannya Al-Quran, dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Quran mempunyai tiga tujuan pokok:

1.      Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.

 

2.      Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.

 

3.      Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang ebih singkat, "Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat."[6]

 

Dari dua gambaran umum tersebut melihat bahwa the living Qur’an yakni al-Qur’an yang hidup pada dasarnya adalah memandang fenomena ini sebagai fenomena social-budaya, yalni sebagai sebuah gejala yang beupa pola-pola perilaku individu-individu yang muncul dari dasar pemahaman mereka mengenai al-Qur’an. Dengan perspektif ini fenomena yang kemudian menjadi objek kajian bukan lagi al-Qur’an sebagai kitab tetapi perlakuan manusia terhadap al-Qur’an dan bagaimana pola-pola perilaku yang dianggap berdasarkan atas pemahaman tentang al-Qur’an itu diwujudkan. Objek kajian disini adalah bagaimana berbagai pemaknaan al-Qur’an diatas hadir, dipraktekkan dan berlangsung dalam kehidupan sehari hari manusia.

 

B.                 Strategi Pembelajaran Ilmu Tajwid dengan Kemampuan Membaca al-Qur’an di SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng

Pembelajaran Ilmu Tajwid dengan Kemampuan Membaca al-Qur’an merupakan satu kesatuan hubungan yang tidak bisa dipisahakan pada materi yang diajarkan dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Walaupun SMK Plus Miftahul Ihsan merupakan sekolah yang berbasis Kejuruan dan minim akan pelajaran Ilmu Agamanya, namun disisi lain nilai Plus dari sekolah ini yakni ditempatkannya beberapa pelajaran terkait Agama Islam salah satunya Ilmu Tajwid yang diterapkan disemua kelas dari kelas sepuluh sampai dua belas. Guru yang mengampu mata pelajaran Ilmu Tajwid kelas 10 dan 11 menuturkan bahwa:

“bahwa mata pelajaran BTQ atau Ilmu Tajwid yang ada disekolah kami bukanlah mata pelajara baru yang notabene nya sekolah kami merupakan kejuruan atau keahlian, namun pada awal berdiri SMK Plus Miftahul Ihsan pun sekitaran tahun 2004 mata pelajaran Ilmu Tajwid sudah diajarkan dan dijadikan sebagai mata pelajaran utama bagi siswa kami, walaupun memang kami tidak mengacu pada kurikulum pendidikan yang disediakan oleh pemerintah”.[7]

Hal ini untuk meningkatkan dan melatih kemampuan membaca al-Qur’an yang baik dan benar sesuai tuntunan Ilmu Tajwid, bahkan kelas sebelas khususnya yaitu kelas Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP) dan Perhotelan (PH) dimana kelas tersebut untuk tingkatan materi pembelajarannya sudah mencapai tentang macam-macam waqaf, dan setelah penyampaian materi diajarkan guru yang mengampu pelajaran tsb melatih bacaan al-Qur’an siswanya dengan satu persatu, hal ini bertujuan agar siswa bisa membaca al-Qur’an secara merata dan menerapkan ilmu tajwid yang diajarkan.[8]

Adapun implementasi dari Strategi Pembelajaran Ilmu Tajwid dengan Kemampuan Membaca al-Qur’an di SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng, yakni menggunakan salah satu metode pembelajaran dalam proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efisien di SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng, yaitu:

1.      Metode Ceramah

Metode Ceramah merupakan salah satu metode pembelajaran yang digunakan dalam mengembangkan proses pembelajaran melalui cara penuturan. Penggunaan metode ceramah ini harus mudah diterima dan dipahami serta mampu mengikuti pendengar untuk mengikuti dan melakukan sesuatu yang terdapat dalam isi ceramah.

 

2.      Metode Tanya Jawab

Metode Tanya Jawab ini merupakan metode pembelajaran yang memungkinkan terjadinya komunikasi secara langsung antara guru dengan peserta didik. Guru bertanya kemudian peserta didik menjawab begitupun sebaliknya. Hal ini bertujuan untuk melatih berfikir peserta didik dan mendampinginya dalam memahami pengetahuan.

 

3.      Metode Demonstrasi

Metode Demonstrasi merupakan salah saty metode pembelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu. Metode ini dinilai cukup efektif karena membantu peserta didik mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar.[9]

 

4.      Metode Jibril

Adakalanya metode ini yang sering digunakan untuk mempermudah Kegiatan Belajar Mengajar, metode jibril yaitu peserta didik menirukan gurunya. Dengan demikian metode ini bersifat guru sebagai sumber belajar atau pusat imformasi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran metode jibril tersebut selalu menitikberatkan pada penerapan teori-teori imu tajwid secara baik dan benar.[10]

Sebagaimana yang dipaparkan oleh Guru BTQ kelas 12 terkait metode yang diajarkan diruangan kelas:

“adapun terkait cara atau metode yang kami gunakan tatkala mengajar diruang kelas sangatlah berfariasi, dalam artian kami tidak mematok satu metode untuk diterapkan pada anak. Karna memang kami menyesuaikan kondisi pengetahuan anak-anak dimasing-masing kelas, kadang menggunakan metode ceramah yakni guru yang lebih aktif menyampaikan materi kepada anak-anak, ada juga metode tanya jawab dimana guru memberikan pertanyaan yang sudah dijelaskan sebelumnya dan anak didik memberikan jawabannya satu persatu. Serta tidak jarang juga kami memberikan tugas rumah sebagai pengingat materi yang telah disampaikan. Pada intinya kami memberikan suasa  baru di setiap pertemuannya, agar anak didik tidak merasa bosan dan jenuh dengan satu metode yang digunakan”.[11]

 

C.                 Ruang Lingkup Pembelajaran Ilmu Tajwid dengan Kemampuan Membaca al-Qur’an di SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng

Hal yang paling penting dipelajari dalam Ilmu Tajwid yaitu, huruf-huruf Hijaiyah dalam bermacam-macam harokah atau barisnya dan bermacam-macam hubungan. Walaupun memang, mempelajari ilmu tajwid hukumnya fardhlu kifayah yakni suatu kewajiban akan gugur dosanya tatkala sudah ada yang mewakili untuk melakukannya, namun disisi lain membaca al-Qur’an dengan baik sesuai dengan ilmu tajwid hukumya fardhu ‘ain yakni suatu kewajiban yang tidak bisa diwakili oleh siapapun untuk melakukannya. Oleh karena itu tatkala seorang muslim membaca al-Qur’an tanpa menggunakan qaidah atau ilmu tajwid maka dipastikan al-Qur’an akan meminta hak bacanya pada orang tsb disebabkan karena tidak mengaplikaskan tema-tema yang ada pada ilmu tajwid. Hal ini mengindikasikan bahwa mengamalkan ilmu tajwid untuk membaca al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.[12]

Dari gambaran ilmu tajwid diatas, maka secara garis besar pokok bahasan atau ruang lingkup pembelajaran imu tajwid dengan Kemampuan Membaca al-Qur’an di SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng, hanya tertuju pada pembahasan Makhorijul Huruf dan hukum bacaan tajwid lainnya, seperti: Nun Mati dan Tanwin, Mim Mati dan Tanwin sampai dengan Pembagian Mad dan lain sebagainya. Karena memang pihak sekolah tidak membebani atau memberi target materi yang full untuk mengajarkan ilmu tajwid, dikarenakan memang basic yang dimiliki anak didik SMK rata-rata lulusan dari Sekolah Menengah Pertama sehingga ketika masuk di SMK diajarkan Ilmu Tajwid untuk mengulang, mengingatkan dan bahkan memberikan pengetahuan baru bagi yang belum mengenal ilmu tajwid. Karena anak didik yang masuk di SMK beranggapan bahwa di sekolah kejuruan lebih terfokus pada keahlian tidak dengan pelajaran yang berkaitan dengan agama. Guru BTQ kelas X dan XI menuturkan:

“untuk materi tajwid yang di ajarkan disekolah kami tidak terfokus pada satu buku dan materi-materi yang berkelanjutan, kami hanya memberikan materi bagi pemula walaupun anak didik kami terhitung sudah dewasa, seperti kami selalu menekankan materi tentang makhorijul huruf, hukum mad, penerapan ta’awwudz dan basmalah. Karena capaian kami agar anak didik bisa memahami dan menerapkan serta mempraktekkan ilmu yang telah diterima, adapun bagi karakter anak didik yang susah memahami materi setidaknya untuk mengurangi dosa pada kekeliruan dalam membaca al-Qur’an, karena terhitung masih dalam tahap belajar”.[13]

Namun berbeda dengan pandangan Guru BTQ kelas XII, beliau mengatakan:

“untuk kelas XII sendiri materi yang diajarkan bersifat kondisinal dan fleksibel artinya kita melihat dan menyesuaikan dengan kondisi pengetahuan anak didik, bahkan tidak jarang materi kelas X dan XI sering terulang. Karena memang capaian kami kepada anak didik setidaknya mampu membaca surat al-Fatihah dengan baik dan benar sesuai hukum ilmu tajwid yang berlaku baik hapalan maupun tulisannya. Bahkan untuk kelas XII bukan hanya membaca dan mempraktikkan apa yang telah kami pelajari, namun disisi lain kami memberikan bekal hapalan surat-surat pendek dan pilihan kepada anak didik agar dikemudian hari dimasyarakat bisa dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar. Sera sering juga diajarkan untuk mengimla’ atau mendiktekan tulisan al-Fatihah sebagai bentuk hapalan tulisan”.[14]

 

D.                Ilmu Tajwid sebagai Media Pengembangan Belajar Religius

 

Praktik Pembelajara al-Qur’an menggunakan Ilmu Tajwid atau Baca Tulis Qur’an pada siswa dan siswi SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng, sebagai respon terhadap kehadiran al-Qur’an dilingkungan umat islam yang memiliki nuansa magis dan berfungsi sebagai media penenang jiwa, hadir dalam pembacaan al-Qur’an setiap kali pembelajaran materi disampaikan di masing-masing kelas X – XII baik dari Jurusan Perhotelan (PH), Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM), Otomotisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP) maupun Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP). Kegiatan Baca al-Qur’an setelah penyampaian materi merupakan aktifitas rutin yang dilakukan oleh warga sekolah SMK Pluss Miftahul Ihsan ( Interview Asep, Siswa kelas XI BDP SMK Plus Miftahul Ihsan 2021).

 

Kegiatan tersebut diawali dengan pembacaan surat al-Fatihah bersama dengan mengharap yakni semoga pembelajaran dikelas diberkahi dan diberikan ketenangan jiwa dalam melaksanakan pembelajarannya. Adapun setelah surat al-Fatihah dibacakan lalu diteruskan pembacaan ayat-ayat yang berkaitan dengan materi yang disampaikan dikelas dengan tujuan agar disamping menenangkan jiwa yakni mengaplikasikan materi yang telah disampaikan.

 

Dalam kegiatan tersebut, tidak banyak siswa dan siswi SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng membawa al-Qur’an, malah kebanyakan mereka membawa gadget yang tersedia aplikasi al-Qur’an nya sebagai bentuk kekhawatiran mereka tatkala dibawa dan diletakkan ditas. Dalam konteks ini juga memang jumlah al-Qur’an yang terdapat di perpustakaan SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng juga terbatas, sehingga memungkinkan warga sekolahnya membawa al-Qur’an sendiri.

 

Hal yang tidak jauh berbeda, tatkala penulis mewawancarai salah satu siswa SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng, Asep Zainal Aripin yakni siswa kelas XI Perhotelan (PH) tentang bagaimana pandangan warga sekolah terkait adanya pelajaran Ilmu Tajwid dipandang dari Pengembangan Belajar Rohani terhadap pelajaran lain. Menurutnya, Mata Pelajaran Ilmu Tajwid yang ada di SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng amatlah bagus untuk dipelajari di sekolah kami, karna bisa membantu untuk diri sendiri bahkan dimasyarakat kelak. Ilmu Tajwid ini sangatlah berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih memang daerah kami merupakan daerah yang kental dengan agamis nya. Disisi lain Ilmu Tajwid ini sebagai pelajaran dalam menambah wawasan agama bagi kami dalam mempelajari al-Qur’an lebih dalam lagi, sehingga menjadi kebanggaan tersendiri untuk diri pribadi maupun warga sekolah kami untuk meningkatkan keilmuwan yang benuansa agamis.[15]

 

Berbeda tanggapan dari siswa lain, ketika penulis menanyakan perihal pandangan siswa SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng terkait pengaruh dan adanya pelajaran Ilmu Tajwid disekolah tsb, yakni Asep siswa kelas XI Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP) ia mengemukakan pendapatnya bahwa, Ilmu Tajwid yang dipelajari dikelasnya dan umumnya disemua kelas menjadikan pelajaran yang langka, seru akan pelajaran nya, rasa senang yang kami dapat ketika mempelajari ilmu yang amat bermanfaat di masyarakat dan yang pastinya menjadi cadangan pahala diakhirat kelak, baik ketika mempelajarinya maupun dalam mengaplikasikannya dalam al-Qur’an sehingga timbulah rasa ketenangan jiwa dalam diri dan memberikan efek kualitas belajar yang tinggi untuk mendalaminya serta berpengaruh pada kesemangatan belajar pada mata pelajaran yang lain.[16]

 

KESIMPULAN

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa Al-Qur’an diposisikan oleh warga sekolah SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng sebagai sebuah entitas yang memiliki kekuatan religius. Implikasi dari pandangan tersebut terimplementasi dalam berbagai praktik resepsi living mereka terhadap Al-Qur’an. Praktik living Qur’an yang dijumpai dalam stuktur SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng adalah Ilmu Tajwid sebagai Media Pengembangan Belajar Religius

Ilmu Tajwid sebagai sarana media ketenangan jiwa dijumpai dalam tradisi Pembacaan Al-Qur’an setelah penyampaian materi selesai diberikan yang dilakukan di kelas  masin-masing dilingkungan sekolah SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng.

 



[1] Marhaya, Metode Pembelajaran Al-Qur’an Hadis Dan Problematikanya Pada Siswa Mts Darul Hikmah Lenggo-Lenggo Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinja, (UIN Alaudin Makasar: Skripsi  2013), Hlm. 9

[2] Tri Oktiana Endah Pratiwi, Model Pembelajaran al-Qur’an untuk Meningkatkann Kualitas Bacaan Siswa, (Universitas Muhammadiyah Surakarta: Skripsi 2013), Hlm. 6

[3] Baharudin, Metode Pembelajaran Ilmu Tajwid Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Al-Imam ‘Ashim, (UIN Alaudin Makasar: Tesis  2013), Hlm. 3

[4] Mariya Widi Astuti, Strategi Pembelajaran Ilmu Tajwid dan Keterampilan Membaca al-Qur’an Mahasantri kelas Asasi, (UIN Maulana Malik Ibrahim: Skripsi 2020), Hlm. 2

[5] Andi Rosa, Tafsir Kontemporer:  Metode dan Orientasi Modern dari Para Ahli dalam Menafsirkan ayat Al-Qur’an, (Banten, DepdikbudBantenPress 2015), Hlm. 6-8

[6] Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, (Jakarta: Penerbit Mizan 1996), Hlm. 21-22

[7] Hasil Wawancara dengan Guru BTQ kelas X dan XI, Bapak Mahdar Junaidi, S.Pd, pada tanggal 28 Oktober 2021 pukul 10:30 WIB, di Aula Bersama SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng

[8] Hasil Obsevasi Lapangan Mengajar Pelajaran BTQ kelas BDP dan PH, tanggal 23 Oktober 2021, dikelas XI SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng

[9] Mariya Widi Astuti, Strategi Pembelajaran Ilmu Tajwid dan Keterampilan Membaca al-Qur’an Mahasantri kelas Asasi,.....Hlm. 20

[10] Baharudin, Metode Pembelajaran Ilmu Tajwid Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Al-Imam ‘Ashim,.....Hlm. 15

[11] Hasil Wawancara dengan Guru BTQ kelas XII, Bapak Salman al-Hanafi, S.Pd, pada tanggal 28 Oktober 2021 pukul 10:50 WIB, di Aula Bersama SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng

[12] Sayuti, Ilmu Tajwid Lengkap, Qaidah Bagaimana Seharusnya membaca Al-Qur’an dengan Baik dan Benar, (Penerbit: Sangkala), Hlm. 7

[13] Hasil Wawancara dengan Guru BTQ kelas X dan XI, Bapak Mahdar Junaidi, S.Pd, pada tanggal 28 Oktober 2021 pukul 10:30 WIB, di Aula Bersama SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng

[14] Hasil Wawancara dengan Guru BTQ kelas XII, Bapak Salman al-Hanafi, S.Pd, pada tanggal 28 Oktober 2021 pukul 10:50 WIB, di Aula Bersama SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng

[15] Hasil Wawancara dengan siswa PH kelas XI, Asep Zainal Aripin, pada tanggal 29 Oktober 2021 pukul 09:55 WIB, di Aula Bersama SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng

 

[16] Hasil Wawancara dengan siswa BDP kelas XI, Asep, pada tanggal 29 Oktober 2021 pukul 10:15 WIB, di Aula Bersama SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng