Penyebutan Kata Muhammad Dalam Al-Qur'an

 

PENYEBUTAN KATA MUHAMMAD DALAM AL-QUR’AN

(STUDI KITAB TAFSIR IBNU KATSIR)

PROPOSAL SKRIPSI


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Pada Fakultas Ushuluddin dan Adab Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir

Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Description: Description: Description: UIN

 

Oleh :

 

MUJIBURROHMAN

181320036

 

FAKULTAS USHULUDDIN DAN ADAB

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN

2021 M/1442 H


OUTLINE

 

BAB I        PENDAHULUAN.. 1

A.    Latar Belakang Masalah........................................................................................... 1

B.     Rumusan Masalah..................................................................................................... 6

C.     Tujuan dan Manfaat Penelitian................................................................................. 6

D.    Kajian Pustaka...................................................................................................... 10

E.     Kerangka Teori......................................................................................................... 10

F.      Metode Penelitian. 11

G.    Sistematika Penulisan. 13

 

BAB II      BIOGRAFI DAN BASIS PENAFSIRAN KITAB TAFSIR IBNU KATSIR.. 16

A. Biografi Ibnu Katsir 16

B. Karya-karya Ibnu Katsir............................................................................................ 16

C. Metodologi Penafsiran Kitab Ibnu Katsir................................................................. 16

D. Corak Penafsiran Kitab Ibnu Katsir.......................................................................... 16

E. Keistimewahan Kitab Tafsir Ibnu Katsir................................................................... 16

 

BAB III   GAMBARAN UMUM PENYEBUTAN NAMA LAQOB MUHAMMAD SAW DALAM AL-QUR’AN.. 16

A. Awal mula Penyebutan Nama Muhammad SAW... 16

B. Penyebutan Nama Laqob Muhammad SAW dalam Surah....................................... 16

C. Penyebutan Nama Laqob Muhammad SAW dalam Kosa Kata al-Qur’an. 16

D. Pandangan Mufassir tentang Nama Laqob Muhammad SAW................................. 16

 

BAB IV  PENAFSIRAN TENTANG PENYEBUTAN KATA MUHAMMAD DALAM KITAB TAFSIR IBNU KATSIR.. 16

A.   Ta’rif Kata Muhammad SAW... 16

B.   Penyebutan Kata Muhammad dalam Penamaan Surah Muhammad.. 16

C.   Asbabun Nuzul Kata Muhammad dalam Q.S. Ali-Imran (3): 144; al-Ahzab (33): 40; Muhammad (47): 2; dan al-Fath (48): 29. 16

D.   Penafsiran Ibnu Katsir Kata Muhammad dalam Q.S. Ali-Imran (3): 144; al-Ahzab (33): 40; Muhammad (47): 2; dan al-Fath (48): 29. 16

E.   Nilai Munasabah Penyebutan Kata Muhammad dalam Penamaan Surah dan Q.S. Ali-Imran (3): 144; al-Ahzab (33): 40; Muhammad (47): 2; dan al-Fath (48): 29. 17

 

BAB V       PENUTUP. 17

A.   Kesimpulan. 17

B.    Kritik dan Saran. 17

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an menurut Ibnu Khaldun, turun dengan menggunakan bahasa Arab. Oleh karena itu, seluruh masyarakat arab akan memahami pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an tersebut. Disamping itu, Al-Qur’an yang berbentuk mushaf tertulis merupakan fenomena linguistik. Terlepas dari validitas statemen tersebut, kesimpulan dari Ibnu Khaldun itu dapat dijadikan argumen bahwa kemampuan berbahasa Arab menjadi salah satu syarat dalam memahami Al-Qur’an. Karena itu, maka bahasa Al-Qur’an menjadi salah satu fenomena kajian yang sarat dengan multi-interpretasi. Hal ini terlihat, dari produk-produk penafsiran para ulama dan intelektual muslim modern, sejak klasik hingga masa kini menghasilkan model penafsiran yang beraneka ragam, sehingga dapat dikatakan bahwa penafsiran tidak pernah tuntas, karena penafsiran sebagai cara pemahaman manusia, pada dasarnya selalu berkembang selaras dengan perkembangan budaya dan cara berfikir manusia itu sendiri.[1]

Allah swt berfirman :

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٍ۬ (١٧(

“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?”.[2]

Awal ketika membaca ayat ini, maka ketauhilah bahwasanya didalam ayat diatas mengandung seluruh makna dari kemudahan, yang ada didalam pikiran sudah terdapat didalam ayat tersebut, yaitu :

1.      Kemudahan dalam Membaca,

2.      Kemudahan dalam Menghafal,

3.      Kemudahan dalam Memahami,

4.      Kemudahan dalam Mengamalkan.

Oleh karena itu, fokuskanlah pikiranmu, hadirkanlah hatimu, buanglah seluruh kesibukanmu di belakang punggungmu, bacalah dengan selalu membayangkan keagungan firman-firman Allah, dan membayangkan keagungan Dzat Pemilik firman-firman tersebut. Kemudian, lihatlah ayat-ayat tersebut, ulangi jangan bosan-bosan untuk selalu bersamanya, dan jangan mengeluh. Maka Allah akan membukakan pintu keberkahan-Nya dan akan menganugerahkan hal-hal yang tidak dikira-kira.[3]

Allah telah menganugerahkan syafaat dan derajat yang tinggi kepada Rosul-Nya saw, menunjuki manusia agar mencintai beliau, dan melandasi kehendak untuk mengikuti beliau karena cinta kepada Allah. Firman-Nya :

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (٣١(

“Katakanlah : jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[4]

Ayat ini merupakan salah satu penyebab yang mampu menggetarkan hati manusia untuk mencintai Rosulullah saw, untuk itu kita perlu mencari sebab-sebab lain yang bisa mempertautkan hati dengan Rosulullah saw.

Sejak fajar Islam mulai merekah, kaum muslimin berlomba menampakkan kebaikan-kebaikan beliau, menyebarluaskan sirah beliau yang harum semerbak bagaikan parfum kasturi, baik perkataan, perbuatan maupun akhlak beliau yang mulia. Berkaitan dengan akhlak beliau, ‘Aisyah ra, istri Nabi saw pernah berkata, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” Sementara itu, Al-Qur’an merupakan kitab Allah dan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna. Siapa yang memiliki akhlak seperti akhlak beliau, berarti dialah orang yang paling baik, paling sempurna, dan paling layak menerima cinta semua hamba Allah.[5]

Sesungguhnya sesuatu yang paling utama dimana hari-hari berharga dicurahkan kepadanya, dan sesuatu yang termahal yang diistimewakan dengan perhatian lebih, adalah menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu syariat yang diambil dari manusia terbaik yakni Muhammad saw. Seorang yang berakal tidak akan ragu bahwa porosnya adalah Kitab Allah yang diikuti dan Sunnah Nabi-Nya yang terpilih. Sedangkan ilmu-ilmu selainnya, maka boleh jadi ; pertama, ia merupakan ilmu-ilmu alat yang berfungsi untuk memahami keduanya, ibarat barang hilang yang dicari, atau kedua, ilmu-ilmu asing dari keduanya, ibarat mudarat yang terkalahkan.[6]

Allah swt, telah menurunkan Nabi dan Rosul kepada hambanya untuk ditunjukkan kepada jalan yang benar yakni Agama Islam. Allah swt, juga yang telah menciptakan isi alam jagat raya dan alam semesta ini, menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, hanya Allah lah yang patut disembah oleh setiap makhluk yang ada dibumi dan langit baik itu manusia, jin, binatang, serta seluruh isi langit dan bumi tanpa terkecuali. Setiap Rosul yang diutus oleh Allah swt, memiliki kewajiban untuk menyampaikan risalah kepada umatnya yang dihadapi pada masa tersebut, risalah yang dibawa berupa ajaran-ajaran hukum maupun syariat. Berbeda dengan Nabi Muhammad saw, hukum dan syariat yang dibawanya berlaku sampai sekarang bahkan sampai hari kiamat, karena beliau adalah Nabi dan Rosul yang terakhir sehingga hukum syariat yang dibawanya wajib diikuti oleh pengikutnya. Perwakilan oleh satu nabi tidak ubahnya seperti penggunaan kalimat singkat namun kaya akan makna yang terkandung. Kerasulan Nabi Muhammad saw, mewakili sejumlah nabi yang diturunkan pada zaman ummat terdahulu diberbagai tempat, dalam artian risalahnya sebagai penyempurna ajaran-ajaran nabi dan rosul terdahulu. Bukan hanya itu, kerosulan beliau bahkan menggantikan tugas malaikat yang mengawasi manusia di muka bumi dan memenuhi kebutuhan manusia akan bimbingan dan keselamatan.

Nabi Muhammad saw, adalah utusan Allah swt yang terakhir kepada hamba-Nya untuk memperbaiki akhlak dan menunjukkan kembali kepada ajaran atau jalan yang benar. Pada masa itu, manusia sudah lagi tidak menyembah Allah swt melainkan mereka memilih untuk menyembah patung, pohon, batu, binatang dan lain-lain. Nabi Muhammad saw memilki akhlak mulia yang tidak ada tandingan dengan manusia lain. Beliau mahsyur dengan sebutan suri tauladan yang baik. Kisah-kisah tauladan yang menceritakan kemuliaan akhlak beliau sangat tidak terkira. Tujuan diutusnya Nabi Muhammad saw ke bumi adalah bentuk kasing sayang Allah swt kepada alam semesta dan bentuk kasih sayang Allah swt kepada hamba-hamba-Nya.[7]

Hal demikian, nama dan laqob Muhammad saw dalam Al-Qur’an juga dinyatakan dalam jumlah sebutan. Kurang lebih terdapat lima sebutan nama dan laqob Muhammad dalam Al-Qur’an, yaitu sebutan Muhammad, Ahmad, Rosul, Nabi, dan Basyar (manusia seperti pada umumnya). Penyebutan ini terkait dengan misi Isa Ibnu Maryam sebagai seorang rosul yang membenarkan firman Allah dalam kitab Taurat dan kabar gembira tentang akan datangnya seorang rosul yang bernama Ahmad. Masing-masing sebutan ini, tentu saja memiliki karakteristik khusus yang dapat membedakan antara sebutan satu dengan sebutan lainnya. Meskipun harus diakui juga bahwa masing-masing sebutan tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya, karena kelima sebutan tersebut tetap tertuju pada satu objek, yakni seorang Muhammad.

Penyebutan nama lainnya disebutkan dalam salah satu hadits, yakni dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

      إن لي أسماء : أنا محمد ، وأنا أحمد ، وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفر ، وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي ، وأنا العاقب

      “Sungguh aku mempunyai beberapa nama. Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (yang Menghapus), yang denganku Allah menghapus kekafiran, aku adalah Al-Hasyir (yang Mengumpulkan), yang manusia dikumpulkan pada qodam-ku (masa kenabianku), aku adalah Al-‘Aqib (yang paling belakangan) yang tidak ada kerasulan sesudah itu.” (HR. Bukhari, no. 4896 dan Muslim no. 2354).

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah nama-nama Nabi Muhammad saw. Ibnu Dihyah dalam kitab karangannya, berkata: sebagian ulama berpendapat bahwa, jumlah nama-nama Nabi saw itu sama seperti jumlah Asmaul Husna yang jumlahnya 99 nama. Lalu, sebagian peneliti berpendapat bahwa jumlah nama Nabi itu 300 nama. Dan disebutkan dalam karangannya tempat-tempatnya dalam Al-Qur’an dan Hadits, bentuk kata-katanya, dan penjelasan maknanya. Ibnu ‘Arobi berkata bahwa sebagian ulama sufi menyatakan bahwa Allah mempunyai 1000 nama dan bagi rosulnya (Muhammad) 1000 nama pula. Itulah sedikit pernyataan mengenai jumlah nama Nabi saw oleh para ulama. Jadi, semua ulama mempunyai pendapat tersendiri mengenai jumlah nama Nabi saw.

Banyaknya nama menunjukkan agungnya si pemilik nama. Begitulah istilah Imam Nawawi dalam kitabnya “Tahdzibul Asma’ wa al-Lughah”. Berdasarkan kutipan tersebut menunjukkan bahwa betapa agung dan mulianya seorang Nabi Muhammad saw. Sehingga ia memiliki banyak sekali nama atau sebutan (laqob). Dengan mengetahui nama setiap sebutan Nabi Muhammad saw yang tercantum dalam Al-Qur’an kita dapat senantiasa mengambil hikmah dari setiap sebutan nama Nabi Muhammad saw. [8]

Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan diuraikan secara deskriptif-analitik penafsiran dari karya Imam Ibnu Katsir dan pandangan para mufassir lainnya tentang empat sebutan kata Muhammad dalam al-Qur’an yakni yang berupa penamaan surat maupun lafadz atau kata pada ayat dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini penulis meneliti ada di empat ayat dalam surah dan satu penamaan surah untuk kata Muhammad dalam Al-Qur’an, yakni: 1). Q.S. Ali-Imran (3): 144, 2). Q.S. Al-Ahzab (33): 40, 3). Q.S. Muhammad (47): 2, dan 4). Q.S. Al-Fath (48): 29, serta dalam penamaan surah Muhammad.

Dari uraian diatas, maka penulis merasa perlu dan tertarik untuk membahas dan meneliti hal tersebut serta mengambil pelajaran dari penjelasan yang akan disuguhkan penulis dengan menulis proposal penelitian dengan judulPENYEBUTAN KATA MUHAMMAD DALAM AL-QUR’AN (STUDI KITAB TAFSIR IBNU KATSIR)”.

 

 

 

 

B.     Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang yang dipaparkan sebelumnya, terdapat pembahasan yang menarik tentang Penyebutan Kata Muhammad Dalam Al-Qur’an (Studi Kitab Tafsir Ibnu Katsir)”. Nabi Muhammad saw sebagai ikon umat islam dalam menjalankan kewajiban dan amalan-amalan terpuji, segala tindakannya akan dijadikan rujukan sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Oleh karena itu, rumusan masalah yang dapat diajukan dalam bentuk pertanyaan adalah seperti berikut :

1.       Apa pengertian Muhammad dibeberapa ayat dan penamaan surah dalam Al-Qur’an ?

2.      Bagaimana pandangan para Mufassir tentang laqob nama Muhammad ?

3.      Bagaimana penafsiran Imam Ibnu Katsir tentang penyebutan kata Muhammad dalam Al-Qur’an ?

 

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, tujuan dan manfaat penulis yang hendak capai  dari penelitian ini dari rumusan diatas adalah :

1.      Tujuan Penelitian :

a.       Untuk mengetahui pengertian dari penyebutan kata Muhammad dalam Al-Qur’an,

b.      Memberikan kontribusi pemahaman terkait pandangan para Mufassir tentang laqob nama Muhammad untuk penulis maupun umat Islam,

c.       Untuk mengetahui Penafsiran Imam Ibnu Katsir mengenai penyebutan kata Muhammad dalam Al-Qur’an,

d.      Sebagai Tugas Akhir menjalankan perkuliahan Strata Satu (S1) jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddun dan Adab di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin Banten.

2.      Manfaat Penelitian :

a.       Menambah wawasan dan mengembangkan cakrawala pengetahuan penulis mengenai penyebutan kata Muhammad dalam Al-Qur’an,

b.      Dapat menjelaskan kepada pembaca bagaimana para Mufassir terkait mengartikan penyebutan kata Muhammad dalam Al-Qur’an versi pandangan masing-masing dari para Mufassir,

c.       Memberikan pemahaman yang utuh bagi generasi sekarang dan yang akan datang betapa pentingnya memahami makna dari penyebutan kata Muhammad dalam Al-Qur’an versi penafsiran Imam Ibnu Katsir,

d.      Penelitian ini semoga dapat bermanfaat untuk semua kalangan akademik khususnya peneliti sendiri, dalam syarat menyelesaikan Stara (S1) di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

 

D.    Kajian Pustaka

Penelitian tentang penyebutan kata Muhammad baik laqob (julukan) maupun nama aslinya banyak dikaji dan ditelaah dalam berbagai karya tulis ilmiah dengan penjelasan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Untuk memecahkan persoalan dan mencapai tujuan sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, maka perlu dilakukan tinjauan pustaka guna mendapatkan kerangka berfikir yang dapat mempengaruhi kerangka kinerja untuk memperoleh hasil dan tujuan yang di cita-citakan.

Oleh karena itu, adanya persoalan yang muncul perlu digali kembali Penyebutan Kata Muhammad dalam Al-Qur’an yang tertuang dalam beberapa ayat yakni: 1). Q.S. Ali-Imran (3): 144, 2). Q.S. Al-Ahzab (33): 40, 3). Q.S. Muhammad (47): 2, dan 4). Q.S. Al-Fath (48): 29, serta dalam penamaan surah Muhammad yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan konteks perputaran kehidupan jaman sekarang. Maka dari itu, penulis menyadari bahwa penelitian ilmiah ini bukanlah penelitian ilmiah baru dalam dunia perpustakaan, sebelumnya sudah ada yang menganalisis dengan penjelasan yang berbeda.

Penelitian ilmiah yang telah dilakukan sebelumnya diantaranya sebagai berikut :

1.      Jurnal Nabilatul Ulya mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten pada tahun 2019, denggan judul “Kajian Morfologis Nama-Nama Nabi Muhammad Dalam Al-Qur’an”. Dalam penelitian ilmiah tersebut beliau menyebutkan tentang 12 sebutan nama Nabi Muhammad saw dalam kajian Morfologis atau Fan Ilmu Sharaf, yakni Muhammad, Ahmad, ‘Abdu atau ‘Abdullah, Ar-Rahiim atau Ar-Rohmah, Rosul, Al-Basyir, Syahid atau Al-Syahid, Al-Sirojul Munir, Al-Amin, Al-Hasyir, Al-Muddatsir, Al-Muzzammil.[9]

Dalam Jurnal Ilmiah tersebut, pembahasan yang hampir sama yaitu sebutan kata Muhammad. Namun perbedaannya dengan proposal skripsi ini yakni penulis lebih memfokuskan pada pembahasan kata Muhammad yang tercantum pada empat ayat dan penamaan surah dalam Al-Qur’an.

2.      Tesis Abdul Fattah mahasiswa Pascasarjana Program Ilmu Studi Keislaman Konsentrasi Tafsir Hadits Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya 2014, dengan judul “Kemanusiawian Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an”. Dalam penelitian ilmiah tersebut, beliau menyebutkan tentang tujuh Ayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah Manusia biasa, yakni pada: QS. Al-Kahfi ayat 109 dan 110, Fussilat ayat 6, Al-Isra ayat 90-93, As-Syura ayat 51, serta Ibrahim ayat 11.[10]

Pada Tesis beliau, pembahasan yang hampir sama yaitu pada penamaan julukan atau laqob Nabi Muhammad yakni Al-Basyiir yakni Nabi sebagai Manusia Biasa. Akantetapi, perbedaannya dengan proposal skripsi ini yaitu penulis sendiri lebih menitikberatkan pembahasannya pada kata Muhammad yang tercantum empat kali dalam ayat dan satu penamaan surah Muhammad di Al-Qur’an.

3.      Jurnal Skripsi Nurasiah mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh 2017. Dengan judul “Kerasulan Muhammad dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Kitab”. Dalam penelitian ilmiah tersebut, beliau mencantumkan dalam tulisannya lima ayat Al-Qur’an pada masing-masing surah tentang kata Ar-Rosul atau Rosul yang disandarkan pemaknaannya pada Nabi Muhammad saw yakni: QS. Ash-Shaff ayat 6, Al-A’raf ayat 157 dan 158, Al-Jumu’ah ayat 2, serta An-Nahl ayat 36. Kemudian dalam perspektif Al-Kitab, yakni kitab suci agama Kristen yang didalamnya terdapat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, beliau mengutip tujuh ayat Ulangan dan Lukas mengenai kerosulan nabi Muhammad saw.[11]

Pada Jurnal Skripsi beliau, pembahasan yang hampir sama yaitu pada penamaan julukan atau laqob Nabi Muhammad yakni Ar-Rosul atau Rosul yakni Nabi sebagai Utusan Allah swt, penyampai risalah kepada umatnya. Namun, perbedaannya dengan proposal skripsi ini lebih memfokuskan pada kajian ayat-ayat Al-Qur’annya saja tentang penyebutan kata Muhammad.

4.      Skripsi Maulana Iban Salda mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh 2018 yang berjudul “Makna Ummi dan Penisbahannya Kepada Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an”. Dalam penelitian ilmiah tersebut beliau mencantumkan enam ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai kata Ummi yang keterkaitannya dengan kata Ar-Rosul atau Rosul yang penisbahannya pada Nabi Muhammad yakni: QS. Al-Baqarah ayat 78, ‘Ali ‘Imran ayat 20 dan 75, Al-A’raf ayat 157 dan 158, Al-Jumu’ah ayat 2.[12]

Pada Skripsi beliau, pembahasan yang hampir sama yaitu penisbahan kata Ummi kepada Nabi Muhammad yang disandarkan pada sebutan Ar-Rosul atau Rosul yakni seorang utusan yang diutus oleh Allah swt tidak bisa membaca dan menulis. Namun, perbedaannya dengan proposal skripsi ini nantinya akan lebih membahas mengenai penyebutan kata Muhammad dan penamaan surah Muhammad dalam Al-Qur’an.

Oleh karena itu, dari beberapa karya diatas penulis menemukan beberapa pembahasan secara global tentang sebutan atau julukan Nabi Muhammad. Namun, penulis belum menemukan pembahasan penyebutan kata Muhammad dalam Al-Qur’an secara khusus versi kajian Kitab Tafsir Ibnu Katsir. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti pembahasan tersebut, sehingga maksud yang terkandung dalam ayat-ayat dan penamaan surah Muhammad dalam Al-Qur’an dapat dipahami seutuhnya dan bisa menambah cakrawala pengetahuan akademis bagi umat islam.

 

E.     Kerangka Teori

Sebagai salah satu pendukung penulis dalam meneliti terkait penyebutan kata Muhammad dalam Al-Qur’an, penulis mencoba memberikan beberapa gambaran melalui beberapa teori yang dipopulerkan oleh tokoh-tokoh atau cendekiawan Muslim yang lebih dulu mengkaji permasalahan tentang penyebutan kata Muhammad dalam Al-Qur’an.

Salah satu teori tafsir menyatakan bahwa;

نفي العام أحسن من نفي الخاص, وإثبات الخاص أحسن من إثبات العام

“Menegasikan atau meniadakan yang umum lebih baik daripada menegasikan yang khusus. Dan mempostifkan atau menetapkan yang khusus lebih baik dari pada mempositifkan yang umum.”  

Pernyataan nafyul ‘amm ‘menegasikan atau menediakan yang umum’, makna Al-‘Amm itu adalah Al-Syamil ‘menyeluruh’, yaitu pengertian etimologinya. Oleh karena itu, semua yang mencakup yang lainnya itu adalah Al-‘Amm. Rumusan Al-‘Amm disini lebih luas cakupannya daripada cakupan istilah itu dalam Ilmu Ushul. Kata Nur misalnya lebih umum daripada kata dhaw’ oleh karena dhaw’ itu termasuk kedalam nur. Argumen kaidah ini adalah bahwa menegasikan atau meniadakan yang umum berarti menegasikan atau meniadakan yang khsusus, dan mempositifkan atau menetapkan yang umum tidak mesti mempositifkan atau menetapkan yang khusus.

Sedangkan mengenai yang khusus, maka mempositifkan atau menetapkan yang khusus itu berarti mempositifkan atau menetapkan yang umum, dengan arti di atas, dan menegasikan atau meniadakan yang khusus tidak mesti menegasikan atau meniadakan yang umum. Contoh mempositifkan atau menetapkan yang khusus berarti juga mempositifkan atau menetapkan yang umum:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللَّهِ

“Muhammad itu adalah Utusan Allah.”[13]

Berdasarkan bahwa al-Risalah; kerasulan lebih khusus daripada al-Nubuwwah; kenabian dan lebih tinggi tingkatnya, dan bahwa seseorang tidak mungkin menjadi seorang Rasul tanpa kenabian, maka bila seorang hamba adalah Rasul maka ia adalah pasti juga seorang Nabi. Hal itu berbeda dengan bial ia kerasulannya dinegasika, maka tidak berarti kenabiannya juga dinegasikan. Begitu juga bahwa bila yang umum dipositifkan yaitu kenabian, maka hal itu tidak berarti positif pula kerasulannya.[14]

Diantara Teori lainnya yakni Teori Munasabah dalam Al-Qur’an, dimana penulis mengambil dua teori yang berkaitan dengan penyebutan kata Muhammad pada ayat-ayat dan penamaan surah dalam Al-Qur’an :

1.      Munasabah Antarkalimat dalam Ayat

Seperti diketahui hubungan Antarkalimat dalam Ayat adakalanya dapat dikenali dengan mudah dan adakalnya sulit. Ayat-ayat yang hubungannya  mudah dikenali adalah jika memiliki hubungan yang erat antara bagian yang satu dan bagian yang lain, baik sebagai penguat, penjelas, bantahan, maupun penekanan.[15]

2.      Munasabah Antara Tema Surah dan Nama Surah

Para ulama meyakini adanya kesatuan tematik dalam satu surah. Hal itu karena setiap surah pasti memiliki satu tema utama. Tema itu akan menjadi poros bagi seluruh ayat yang ada didalamnya. Setiap surah merupakan kesatuan tematik, baik dalam ajaran yang dikandung, dalam setiap frase, maupun dalam ayat-ayat yang menopangnya semuanya itu saling menguatkan satu sama lain.[16]

 

F.     Metode Penelitian

1.      Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam proposal skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (Library Risearch) yaitu mengumpulkan data atau karya tulis ilmiah yang bertujuan dengan objek penelitian atau pengumpulan data yang berpustakaan yakni dengan cara mendalami, mencermati, menelaah, dan mengidentifikasi pengetahuan yang ada dalam kepustakaan (sumber bacaan, buku, atau hasil penelitian lain).[17]

 

2.      Sumber Penelitian

Teknik pengumpulan data merupakan kajian utama dalam sebuah penelitian. Sumber data terbagi menjadi dua yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Adapun sumber penelitian yang penulis ambil adalah sebagai berikut :

a.       Sumber Data Primer merupakan rujukan utama dalam mengadakan suatu penelitian untuk meningkatkan dan menganalisis penelitian tersebut. Adapun data primer yang penulis gunakan adalah Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim atau Tafsir Ibnu Katsir karya Imam Ibnu Katsir.

b.      Sumber Data Sekunder merupakan sumber penunjang yang diambil penulis dari buku-buku, jurnal, artikel, dan lain-lain yang berkaitan dengan Penyebutan Kata Muhammad dalam Al-Qur’an.

 

3.      Pendekatan Penelitian

Pembahasan utama dalam penelitian ini adalah Al-Qur’an dan untuk memahami ayat-ayat-Nya digunakan penafsiran. Para ulama mencoba menuangkan apa yang mereka kaji dalam beragam metode. Metode yang paling banyak diminati adalah metode Tahlili/Analitik. Metode ini berkembang menjadi tiga macam, yaitu; Basith atau Ensiklopedis, Wasith atau Pertengahan, dan Wajiz atau Ringkas. Begitu juga muncul metode Maudhu’iy/Tematik, metode ini pun bisa diklasifikasikan menjadi tiga macam, yakni; Al-Basith atau Menyeluruh, Al-Wasith atau Pertengahan, dan Al-Wajiz atau Sederhana. Metode lain yang muncul ke permukaan adalah metode Muqaran/Perbandingan. Metode lainnya yang muncul adalah metode Ijmali/Global, yang lebih menitikberatkan pada substansi ayat dengan bahasa yang mudah dipahami.[18]

Pada tahun 1977, Prof. Dr. Abdul Hay Al-Farmawiy, yang juga menjabat guru besar pada fakultas Ushuluddin Al-Azhar, menerbitkan buku Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Maudhu’iy dengan mengemukakan secara terinci langkah-langkah yang hendaknya ditempuh untuk menerapkan metode maudhu’iy, langkah-langkah tersebut yaitu :

1.      Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik),

2.      Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut,

3.      Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asbabun nuzulnya,

4.      Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing,

5.      Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline),

6.      Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok bahasan,

7.      Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang ‘am (umum) dan khash (khusus), mutlak dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan.[19]

 

G.    Sistematika Penulisan

Sistematika Penulisan merupakan sebuah upaya untuk menyusun langkah-langkah penelitian agar memiliki keterkaitan antara satu pembahasan dengan pembahasan yang lainnya. Untuk memberikan arahan yang tepat dan tidak memperluas objek penelitian, maka perumusan sistematika disusun sebagai berikut :

BAB I             :Berisi Pendahuluan, yang didalamnya terdiri Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Kajian Pustaka, Kerangka Teori, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan.

 

BAB II                        :Berisi pembahasan Biografi dan Basis Pemikiran Kitab Tafsir Ibnu Katsir yang meliputi terkait Biografi, Karya-karya, Metodologi Penafsiran, Corak Penafsiran dan Keistimewahan Kitab Tafsir Ibnu Katsir.

 

BAB III          :Berisi pembahasan mengenai Gambaran Umum Penyebutan Nama Laqob Muhammad saw dalam Al-Qur’an, yang didalamnya terdapat Awal mula Penyebutan Nama Muhammad saw, Penyebutan Nama Laqob Muhammad saw dalam Surah, Penyebutan Nama Laqob Muhammad saw dalam Kosa Kata Al-Qur’an, Pandangan Mufassir tentang Nama Laqob Muhammad saw.

 

BAB IV          :Berisi mengenai Penafsiran tentang Penyebutan Kata Muhammad dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, yang memuat isi Ta’rif kata Muhammad saw, Penyebutan Kata Muhammad dalam Penamaan Surah Muhammad, Asbabun Nuzul Kata Muhammad dalam Q.S. ‘Ali ‘Imran (3): 144; Al-Ahzab (33): 40; Muhammad (47): 2; dan Al-Fath (48): 29, Penafsiran Ibnu Katsir Kata Muhammad dalam Q.S. ‘Ali ‘Imran (3): 144; Al-Ahzab (33): 40; Muhammad (47): 2; dan Al-Fath (48): 29, Nilai Balaghoh Penyebutan Kata Muhammad dalam Q.S. ‘Ali ‘Imran (3): 144; Al-Ahzab (33): 40; Muhammad (47): 2; dan Al-Fath (48): 29.

 

BAB V            :Berisi tentang Penutup yang mencakup Kesimpulan, Kritik dan Saran, pada bab terakhir ini semua yang dijabarkan pada bab-bab sebelumnya akan diberikan Kesimpuan atas esensi pembahasan yang tertera, dan pemaparan Kritik dan saran yang merupakan rekomendasi dari penulis sendiri.

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Bisri, Hasan, Model Penafsiran Hukum Ibnu Katsir, Bandung: LP2M UIN Sunan Gunung Djati, 2020.

Muhammad Khalil, Syikh Adil, Tadabur al-Qur’an; Menyelami Makna al-Qur’an dari al-Fatihah sampai an-Nas, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2018.

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman, Ar-Rahiq Al-Makhtum Bahtsun fis Siratin Nabawiyyati ‘alaa Shahibiha Afdhalush Shalati wa Sallam, Jakarta: Ummul Qura, 2011.

Al-Ausyan, Majid Sa’ud, Panduan Lengkap dan Praktis; Adab dan Akhlak Islami Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, Jakarta: Darul Haq, 2019.

Salda, Maulana Iban, Makna Ummi dan Penisbahannya Kepada Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an, Skripsi, Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Darussalam, 2018.

Ulya, Nabilatul, Kajian Morfologis Nama-Nama Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an Jurnal Alfaz, Vol.7, No. 2, Banten: UIN Sultan Maulana Hasanudin, 2019.

Fattah, Abdul, Kemanusiawian Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an, Tesis, Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2014.

Nurasiah, Kerasulan Muhammad dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Kitab, Jurnal Skripsi, Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Darussalam, 2017.

Harun, Salman, dkk, Kaidah-kaidah Tafsir; Bekal Mendasar untuk Memahami Makna Al-Qur’an dan Mengurangi Kesalahan Pemahaman, Jakarta: Penerbit Qaf, 2017.

Said, Hasani Ahmad, Diskursus Munasabah Al-Qur’an dalam Tafsir Al-Misbah,  Jakarta: Penerbit Amzah, 2015.

Kusmiyati, Dedeh, Etika Menuntut Ilmu dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-78 Studi Tafsir Marah Labid, Skripsi, Banten: UIN Sultan Maulana Hasanudin, 2021.

Muhammad, Ahsin Sakho , Membumikan Ulumul Qur’an, Jakarta: Penerbit Qaf, 2019.

Shihab, Muhammad Quraish, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Penerbit Mizan, 2012.



[1] Hasan Bisri, Model Penafsiran Hukum Ibnu Katsir, (Bandung: LP2M UIN Sunan Gunung Djati, 2020), p. 1.

[2] QS. Al-Qamar [27] : 17.

[3] Syaikh Adil Muhammad Khalil, Tadabur al-Qur’an; Menyelami Makna al-Qur’an dari al-Fatihah sampai an-Nas, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2018), p. 14.

[4] QS. ‘Ali-‘Imran [3] : 31.

[5] Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum Bahtsun fis Siratin Nabawiyyati ‘alaa Shahibiha Afdhalush Shalati wa Sallam, (Jakarta: Ummul Qura, 2011), p. 22.

[6] Majid Sa’ud Al-Ausyan, Panduan Lengkap dan Praktis; Adab dan Akhlak Islami Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Jakarta: Darul Haq, 2019), p. 3.

[7] Maulana Iban Salda, Makna Ummi dan Penisbahannya Kepada Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an, Skripsi ,(Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Darussalam, 2018), p. 2.

[8] Nabilatul Ulya, Kajian Morfologis Nama-Nama Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an, Jurnal Alfaz, Vol.7, No. 2 (Banten: UIN Sultan Maulana Hasanudin, 2019), p. 100.

[9] Nabilatul Ulya, Kajian Morfologis ..., p.106.

[10] Abdul Fattah, Kemanusiawian Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an, Tesis, (Surabaya: Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, 2014), p. 22-27.

[11] Nurasiah, Kerasulan Muhammad dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Kitab, Jurnal Skripsi, (Banda Aceh: UIN Ar-Raniry, 2017), p. 18-24.

[12] Maulana Iban Salda, Makna Ummi ..., p. 35-51.

[13] QS. Al-Fath [48] : 29.

[14] Salman Harun, dkk, Kaidah-kaidah Tafsir; Bekal Mendasar untuk Memahami Makna Al-Qur’an dan Mengurangi Kesalahan Pemahaman, (Jakarta: Penerbit Qaf, 2017), p. 542-543.

[15] Hasani Ahmad Said, Diskursus Munasabah Al-Qur’an dalam Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Penerbit Amzah, 2015), p. 166.

[16] Hasani Ahmad Said, Diskursus Munasabah ..., p.231.

[17] Dedeh Kusmiyati, Etika Menuntut Ilmu dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-78 Studi Tafsir Marah Labid, Skripsi, (Banten: UIN SMH Banten, 2021), p. 17.

[18] Ahsin Sakho Muhammad, Membumikan Ulumul Qur’an, (Jakarta: Penerbit Qaf, 2019), p. 165-166.

[19] Muhammad Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Jakarta: Penerbit Mizan, 2012), p.115.

0 Komentar

Living Al-Qur'an_Pembelajaran Ilmu Tajwid di SMK Plus Cilograng

  A.                    Ilmu Tajwid dengan Kemampuan Membaca al-Qur’an di SMK Plus Miftahul Ihsan Cilograng Secara etimologis Pembelajaran berasal dari akar bahasa yakni Pengajaran, dalam bahasa Arab dikenal dengan lafadz Ta’lim. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007 : 17) Menta’rifkan kata pembelajaran berasal dari kata Ajar yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau dituruti, sedangkan Pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Menurut istilah Pembelajaran ialah mengajarkan siswa atau anak didik menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. [1] Sedangkan Pembelajaran al-Qur’an ialah proses pendidik dalam mengajarkan dan membimbing al-Qur’an kep...